Amputasi tanpa dibius bagaimana ya?
Amputasi tanpa bius, tanpa memasukkan alkohol dan tanpa obat yang menyebabkan kehilangan kesadaran pernah dilakukan oeh seorang Tabiin. Beliau Cuma mengandalkan kalimat tauhid dan takbir. Bagaimana rasanya? Bagaimana pua ceritanya?
Urwah ibn Zubairlah orangnya anak dari sahabat rasulullah
Zubair ibn awwam dengan Asma’ binti Abu bakar, Urwah lahir pada tahun terakhir
di zaman kholifah Umar ibn khottob radhiyallahu anhu.
Suatu ketika Walid ibn Abdul malik yang sebagai kholifah
pada masa itu memanggil Urwah ke Damaskus, berangkatlah Urwah bersama dengan
anaknya yang paling besar. Ketika sampai di Damaskus disambutlah Urwah dengan
sambutan hangat dan meriah kemudian tinggallah di Damaskus selama beberapa
waktu sampai suatu ketika Urwah mendapat cobaan yaitu ketika anaknya memasuki
kandang kuda kholifah untuk berkuda, namun apa yang terjadi? Kuda tersebut
menendangnya dengan sangat kuat sehingga putra dari Urwah meninggal dunia
akibat tendangan kuda tersebut.
Kesedihan atas meninggalnya anak belum selesai beliau mendapat ujian lagi yaitu
salah satu kakinya terkena penyakit yang menjalar dengan cepat, kemudian
kholifah memanggil para dokter yang ada di Damaskus untuk mengobati penyakit
Urwah, para dokter sepakat untuk mengamputasi betis Urwah sebelum penyakitnya
menjalar ke seluruh tubuh yang bisa menyebabkan kematian. Keimanan Urwah yang
kuat menjadikan ini semua sebagai ujian dan menyerahkan semua urusannya Allah
tuhan semesta alam yang menjadikan sehat atau sakit, matia atau hidup.
Ketika dokter bedah datang dengan semua peralatan bedah untuk mengamputasi kaki
Urwah, dokter berkata : saya akan memberimu minuman khomer agar engkau tidak
merasakan sakitnya diamputasi. Urwahpun menjawab : tidak mungkin, saya tidak
akan menggunakan barang haram untuk mendapatkan kesembuhan. Dokter
berkata: kalau begitu saya akan memberimu narkotika? Urwah berkata: saya tidak
suka anggota tubuh saya dipotong sedangkan saya tidak merasakannya, saya
berharap pahala kepada Allah atas amputasi ini.
Ketika dokter bersiap mengamputasi kakinya datanglah segerombolan orang
laki-laki mendekati Urwah, diapun berkata: siapa mereka? Dokterpun menjawab :
mereka yang akan memegangimu apabila kamu kesakitan nanti agar amputasi
berjalan dengan lancer. Urwahpun menjawab: kembalikan mereka saya tidak
membutuhkannya saya akan mencukupinya dengan dzikir dan tasbih kepada Allah.
Ketika Amputasi dimulai Urwah membasahi mulutnya dengan selalu membaca LAA
ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR dan kalimat tayyibah itu terus beliau ucapkan
sampai kakinya selesai diamputasi. Kemudian minyak dipanaskan diatas panci besi
dan disiramkan ke kaki Urwah untuk menghentikan darah yang terus mengucur dari
kakinya akibat amputasi tersebut. Urwahpun pingsan setelah sebelumnya tanpa
berhenti mengucapkan tahil dan takbir.
Ketika sadar dari pingsannya Urwah meminta kaki yang sudah
diamputasi kemudian menciumnya dan berkata : engkau yang membwaku ke masjid
ketika malam hari, Allah maha mengetahui bahwa saya tidak pernah berjalan
denganmu kepada keharaman.
Inilah salah satu contoh orang yang merasakan nikmatnya
berdzikir kepada Allah dengan membaca kalimat thayyibah sampai rasa sakitnya
amputasipun tidak dirasakannya.
Amputasi tanpa bius? tidak terasa sakit dengan memperbanyak
berdzikir kepada Allah, karena nikmat berdzikir lebih besar dari rasa sakit
amputasi itulah salah satu pelajaran yang bisa kita petik dari Urwah ibn
Zubair.
